menunggu yang abadi dalam diam
![]() |
| menunggu yang abadi dalam diam |
"Menunggu yang Abadi dalam Diam"
Cinta?
saya belum mengerti
cinta. Namun, begitu anyak rasa yang saya rasakan. Hingga dada ini begitu sesak
dan menusuk-nusuk sanubari. Rasa, begitu banyak pilihannya hingga tak bergeming
muncul menemani hari yang berkecamuk biru hingga kelabu. Senang sedih, bahagia,
bangga dan kecewa.semua hanya untukmu yang menantikan diri. Eis.... alay lebai
nih.. hiks hiks..
Setelah satu tahun
tak lagi menghubungi kak Cipto, sungguh hari yang sangat lengang dan suram.
Namun apalah daya diri ini, demi menepati janji dan impian untuk akhirat kami
pun saling menghilang di telan bumi. Bukan kami tak mau menikah, akan tetapi
kami saling belum siap untuk membina rumah tangga yang sakinah mawaddah
warohmah.
Maklumlah waktu itu
aku baru berhijrah beberapa bulan dan ketika itu masih banyak hal yang tidak
bisa kuterima dengan mudah. Apalagi tentang menutup aurat dengan sempurna,
semuanya serba ribet dan menyulitkan. Ada banyak hal yang membuatku khawatir.
Masalah pekerjaan, keluarga, dan lingkungan di sekitar rumah serta teman-teman
kuliahku. Semuanya pada heran gitu mandangin aku sampe - sampe kelilipan
matanya. Kesian juga ya.. “bukan gitu
juga sih”.
Awal aku mau menutup
aurat sebenarnya karena tuntutan peran gitu. Aku dapat beasiswa yang isinya
semuanya para akhwat-akhwat tangguh yang ketcheh dan pake jilbab yang dalemnya
ga ketulungan. Mau ga mau ya harus ngikut mereka juga akhirnya meski ga di
suruh sih sebenarnya wkwkwk. Maklumlah sesuai dengan pepatah”dimana bumi di
pijak disitu langit dijunjung” ya harus ikut aturan mereka dan pasrah. “O amak
anakmu sudah pasrah dengan cobaan kehidupan yang memabawa ke surga ini”. Memang
berat sih pertama kali mencoba berjilbab besar dan tebal itu. Seolah-olah kita
lagi dalam panci penggorengan yang dimasak di atas kompor full api. Geraaahnya
minta ampun banget! Ditambah lagi dengan kegiatan pembinaan yang setiap paginya
harus bangun jam 4, kalo ga bangun jam segitu di cemberutin sepanjang hari sama
pembinanya. Malam hari ada lagi pembinaannya, oh Tuhan aku lelah menatap
mentari esok pagi.
Kamu tau ga apa aja
yang harus aku lakukan dalam waktu yang 24 jam itu? Dari aku bangun tidur
sampai tidur lagi, bangun lagi dan tidur lagi. Aku harus punya schedule and
planning, eits keinggris-inggrisan. Maaf kawan-kawan :D. Kayak gini pagi-pagi
sekali aku harus sudah bangun, sholat tahajjud, tilawah, sholat shubuh dan
tidur lagi.. eh bukan gitu, maksudnya lanjut ke Almatsurat dan agenda kuliah
subuh. And then, aku mandi dan terus kuliah deh dari pagi, siang sampai sore
harinya. Biar keliatan sibuk di kampus, kalo ga ada jadwal kuliah pas jeda
istirahat di lanjutin dengan tidur siang wkwkwk... maklumlah masih anak bawang
masih suka tidur siang :D. Eh, jangan bilangin sama pembina ya.. pliss... .
Lanjut dengan tahun kedua, aktivitas masih sama sih, tapi bedanya sekarang udah
sibuk banget dengan kegiatan-kegiatan full manfaat gitu. Ane aktivis bro!
Aktivis. Biasa, punya banyak agenda sana sini. Eh ga taunya udah malem aja hari
lagi. Kalo udah jadi aktivis ini. Siang malam sibuk tiada abisnya, udah selesai
diluar dilajutin ama yang di gadgetnya. Rapat lagi euy rapat lagi. Terkadang
pembahasannya ga masuk akal dan melalangbuana hingga ke korea. Wuiih jauh bro.
Hari demi hari
dijalani dengan begitu hingga telah lupa betapa panjangnya waktu terlampaui dan
betapa lamanya detik-detik jam berputar. Hingga tak terasa setiap yang
dilakukan begitu bermakna dan menyenangkan.
#bersambung....

Komentar
Posting Komentar