Langsung ke konten utama

aktivis tak kan galau




Sewaktu pertama masuk kuliah yang saya bayangkan itu bahwa seorang mahasiswa tu hanya pergi kuliah, belajar terus menerus agar mendapatkan nilai terbaik kemudian wisuda dengan IPK tertinggi. Yang lebih mirisnya lagi saya pernah bermimpi akan menjadi seorang ANGGOTA DPR RI hanya dengan melakukan hal tersebut. Akan tetapi kenyataan yang saya peroleh berbeda dengan yang terjadi dilapangan. Setelah saya mengikuti berbagai kegiatan dikampus fakta yang saya peroleh berbeda dengan teori yang saya fikirkan. Jika saya ingin menjadi seorang yang melek politik saya harus aktif dalam berbagai organisasi, jika saya ingin menjadi pekerja saya juga harus aktif organisasi dan apapun profesi yang saya inginkan saya harus aktif berorganisasi. Hal ini, memang terasa sangat sulit bagi saya awalnya. Bagaimana saya bisa membagi waktu saya nanti, harus mengerjakan tugas, harus kuliah, harus mengerjakan tugas dirumah, harus ikut organisasi ini itu dan juga harus bisa mandiri. Membingungkan sekali, saya hampir merasa stress sampai-sampai saya hanya diam dan tidak melakukan apa-apa.
Beberapa waktu pun berjalan, saya mulai merasa tenang dan mencoba mencari celah kegalauan ini. Dalam hati memang ingin mencoba melakukan semua itu, akan tetapi ada hal lain yang menghambat saya untuk aktif berorganisasi dan mandiri. Saya memiliki penyakit yang sudah enam tahun lamanya menyerang tubuh saya, maka saya harus overaktif membagi setiap kegiatan mana yang benar-benar penting dan wajib dikerjakan dan mengesampingkan setiap kegiatan yang masih bisa ditunda hingga besok. Tubuh saya tidak bisa menerima kesibukkan yang membuat saya sangat lelah dan akhirnya saya jatuh sakit. Jika saya lelah maka saya akan pingsan dan membuat panik semua orang. Saya sangat sulit menghindari kejadian ini, sehingga terjad berulang-ulang kali.
Saya harus memahami diri saya agar saya bisa aktif dalam setiap event maupun organisasi. Setelah kuliah semester II dimulai saya bertemu dengan seorang kakak di fakultas, beliau mengajak saya untuk mendaftar organisasi. Namanya ISAT (Islamic Solidarity of Agricultural Technologi) merupakan unit kegatan mahasiswa yang berada difakultas Teknologi Pertanian. Kakak mengatakan bahwa “jika kamu ikut organisasi ini maka kamu bukan hanya mendapat pengalaman saja tapi kamu juga mendapat pemahaman ilmu agama”. Saya merasa cukup tertarik mengikuti organisasi itu, apalagi organisasi tersebut bernuansa islami dan pada saat itu saya juga sedang belajar bagaimana menjadi seorang yang paham agama yang mampu berbagi secara adil dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk.
Ketika saya menghubungi kakak itu ternyata pendaftarannya sudah tutup. Saya menganggap berarti saya belum pantas mengikuti organisasi ini. Setelah beberapa hari berlalu saya dihubungi oleh kakak yang mengajak saya bergabung masuk organisasi itu. Nama beliau adalah kak Yulia. Beliau mengatakan sudah mendaftarkan saya sebelumnya kemudian kak yulia menyuruh saya untuk menemuinya untuk wawancara. Disini saya merasakan masuk organisasi itu murah-murah gampang dan menjalankan amanahnya juga begitu. Apalagi dilaksanakannya disela-sela kesibukkan kita kuliah dan praktikum. Kita harus rapat, kerjakan tugas kuliah dan kerjakan laporan. Disanalah kita bisa belajar mengatur waktu menyeimbangkan pembelajaran untuk kuliah dengan yang diorganisasi. Sebagai seorang yang beragama tentu juga harus rajin beribadah, dakwah dan kewajiban lainnya yang sangat dibutuhkan oleh jasmani dan rohani kita. Disela kesibukkan kita membutuhkan Allah, karena jika kita semakin dekat dengan Rabb kita maka Allah akan mempermudah setiap urusan kita. Salah satu cara kita untuk mendekatkan diri yaitu memperbanyak Tilawah dan zikir, begitu yang diungkapkan oleh kakak mentor saya ketika saya mentoring.
“Innalillahiwainnailahi rojiun. Menjadi aktivis itu seperti itu, jika kita tidak bisa menjalankan amanah namun meminta diamanahkan maka kehancuran akan datang. Namun, ketika kita diamanahkan menjadi pemimpin dan yang mengamanahkan mengatakan kamu bisa. Maka, berusahalah memikulnya, belajarlah dan perbaikilah kepemimpinanmu itu”. Kata- kata itulah yang saya tanamkan kedalam hati agar saya bisa meyakinkan diri bahwa saya mampu memegang amanah yang telah diberikan. Mampu menjadi aktivis yang mumpuni dan bermanfaat dalam lingkungan kampus.
Selama kuliah jungkir balik ipk sering terjadi dikalangan aktivis, termasuk saya. Saya juga mengalami hal tersebut, naik turun indeks prestasi saya setiap tahunnya. Dari rendah kemudian naik dan turun lagi itulah yang saya alami selama ini. Di organisasi juga tidak terlalu memuaskan, namun kakak- kakak dari FSI selalu membaeri semangat kepada saya bahwa saya mampu  mengemban amanah dan akan memajukan FSI ini kedepannya.
Pada saat sekarang ini saya diamanahkan di dua organisasi sebagai koordinator. Saya merasa ini terlalu berat saya sudah menolak akan tetapi orang-orang disana meyakinkan saya bahwa saya mampu mengembannya. Saya tau amanah itu sangat berat, tapi harus dijalankan sebaik mungkin.
Duuhh, menjadi mahasiswa aktivis kampus itu memang melelahkan bahkan banyak yang menghindar dari amanah agar bisa memiliki waktu luang dan istirahat bersama kasur empuknya dirumah atau dikosnya. Hal ini tidak mebuat saya mengikuti orang-orang seperti itu, semakin banyak saya berorganisasi maka semakin sering saya berinteraksi dengan orang lain dan semakin besar peluang saya untuk menperoleh masa depan cerah nantinya. Keterbatasan saya tak membuat semangat luntur karena dibalik kesuksesan saya ada yang menguatkan saya, yaitu Allah SWT dan orang-orang yang menyayangi saya. Semua itu tak lepas dari dukungan mereka, ketika saya sakit dan tiba-tiba ambruk mereka rela menggendong tubuh saya yang berat ini. Mereka tidak marah dengan saya akan tetapi malah semakin perhatian dengan saya.
Memang benar, ukhuwah seorang aktivis itu luar biasa. Saya merasakannya sendiri dan mengalaminya. Meski kesalahan demi kesalahan sering dilakukan namun tak pernah ada benci dari mereka. Maka, tak ada salahnya menjadi aktivis karena seorang aktivis tak pernah sendiri namun bisa hidup mandiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Despro Competition_Padang_Rafki Saputra

Hijrah itu Butuh Ujian dan Dukungan

By: Welidayani ( Pena Khadijah ) Hijrah itu Butuh Ujian dan Dukungan Bismillahirrahmanirrahiim.... Setiap langkah yang berujung kepada tujuan yang besar dan mulia akan selalu dikuatkan oleh Allah SWT. Sebanyak apapun halangan yang melintang tak kan tergoyahkan oleh semangat dan keyakinan akan mencapai tujuan tersebut. Begitu juga dengan hijrah. Dalam berproses memang tidak semudah yang kita fikirkan. Kita membutuhkan jalan yang panjang dan berliku. Berproses menuju ke arah yang lebih baik itu memerlukan banyak pendukung. Pendukung inilah yang akan mempermudah kita dalam menjalankan kegiatan berproses kita. Salah satu pendukung kita dalam berhijrah adalah lingkungan yang homogen sebelum menjajaki lingkungan yang heterogen, pengaruh-pengaruh positif yang berkelanjutan dan semangat yang tinggi dalam melkukan hijrah.   Disini diperlukan karena pada awal kita berhijrah kita masih dalam kondisi terombang ambing dan membutuhkan nasihat dan pujian yang berperan penting dalam...