Langsung ke konten utama

Aktivis Media Sosial (AAMS)



Tema: Hijab Ala Dunia Maya
Aturan Aktivis Media Sosial (AAMS)


Dalam keadaan zaman yang modern yang seperti kita rasakan pada saat sekarang ini terjadi perkembangan teknologi alat komunikasi yang pesat. Seperti munculnya smartphone-smartphone canggih yang memberikan berbagai aplikasi yang mendukung untuk kemudahan dalam berkomunikasi dengan antar sesama menusia seperti media sosial. Media sosial sangat memudahkan kita memberikan dan menerima informasi dari orang lain. Dengan media sosial kita bisa mengirimkan chat, telepon dan bahkan video call dengan teman-teman kita yang jauh secara gratis. Namun, dengan sosial media ini banyak memberikan dampak pada kehidupan manusia, termasuk juga kehidupan manusia aktivis dakwah kampus. Dampak ini bisa bersifat positif maupun negatif.  Untuk itu kita perlu mensiasati agar penggunaan sosial media yang kita lakukan bisa berdampak positif bagi kehidupan kita dan orang banyak.

   Kita sebagai aktifis dakwah kampus pasti akan sangat sering melakukan komunikasi dimedia sosial. Dan bahkan medsos merupakan salah satu ladang dakwah yang sangat strategis dan mudah. Kita bisa memposting berbagai tulisan yang kita buat dan bebas mengekspresikan diri didalamnya. Misalnya instagram, di instagram kita bisa memposting apapun didalamnya. Belum lagi media lainnya yang juga memberikan fitur-fitur yang sama pentingnya bagi yang mengaksesnya. Yang jelas Aktivis Media Sosial (AAMS) hebat dalam menjaga hijab dirinya.

Selain penggunaan media sosial seperti diatas kita juga menggunakan medsos sebagai ajang silaturahim, promosi dan rapat. Kita banyak melakukan berbagai urusan melalui dunia maya dari melakukan diskusi tentang tugas-tugas kuliah sampai dengan diskusi- diskusi mengenai program kerja yang akan dilaksanakan dalam organisasi. Biasanya media sosial yang sering kita gunakan adalah grup WhatsApp. Dalam WhatsApp banyak emoticon yang dapat mengekspresikan diri kita. Apakah kita bahagia, sedih atau tidak setuju dengan berbagai argumen yang disampaikan oleh anggota grup dalam wa kita. Namun, ada banyak hal yang perlu kita perhatikan dalam berkomunikasi di media sosial ini. Kita tidak bisa sembarang berekspresi dan menampakkan reaksi kita secara berlebihan dalam menulis pesan dalam sosmed ini. Apalagi dalam grup medsos tersebut, apalagi jika kita bergabung dalam grup yang beranggotakan ikhwan dan akhwat.

Bagaimanapun setiap interaksi antara ikhwan dan akhwat dimanapun itu baik di dunia maya maupun berkomunikasi secara langsung sangat perlu ada batasan (hijab). Karena islam sangat menganjurkan agar ikhwan dan akhwat menimalisir komunikasi dengan yang bukan mahram sedemikian rupa untuk menghindari bercampur-baur dan fitnah yang mungkin akan muncul. Sehingga Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya bahwa:
apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi) maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”(Al-Ahzab:53). 

Hijab yang paling utama adalah hati. Walaupun pembicaraan terjadi tidak berhadap-hadapan, namun ketika hati sudah tidak dijaga atau di hijabi, maka akan terjadi pembicaraan yang tidak berguna dan bahkan berpetensi menimbulkan penyakit hati diantara penghuni grup tersebut yang akan mendatangkan dosa. Hati adalah bagian tubuh yang sangat penting dan sangat perlu ketat penjagaannya. Ini sesuai dengan Hadist Rasulullah saw yang artinya:
“Ketahuilah bahwasannya di dalam jasad itu terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pulalah seluruh jasadnya dan apabila  ia rusak maka rusak pula  seluruh jasadnya, ketahuilah dia adalah hati. (HR. Bukhari 52, muslim 1599)”.

Oleh sebab itu, ketika kita berinteraksi dengan lawan jenis secukupnya saja. Jagalah hati.

Selain menjaga hati kita juga harus menjaga pandangan (ghaddul bashar) dari melihat-lihat yang dapat memunculkan keinginan-keinginan yang tidak baik. Seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surah An-Nur yang artinya:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”(QS: An-Nur: 30).

Hal ini juga berlaku dalam media sosial kita juga harus menjaga pandangan dari melihat hal-hal yang tidak sepatutnya. Seperti akhwat yang melototi foto-foto ikhwan yang bertebaran di media sosial mereka atau akhwat begitu juga sebaliknya. Dosa dengan mudah terindikasi disetiap tempat jadi kita sebagai Da’i harus berhati-hati. Jangan sampai kita dengan mudah terjerumus atau keasyikan dengan media sosial ini dan akhirnya membawa malapetaka. Memang susah benar memilah mana kebaikan dan mana keburukan dalam media sosial ini, namun tugas kita sebagai Da’i iyalah kritis dalam menanggapinya.

#Aktivis Media Sosial (AAMS)



Komentar